Sistem Antrian dengan Prioritas
Sistem Antrian dengan Prioritas
Pengertian
Teori antrian adalah
teori yang menyangkut studi matematis dari antrian-antrian atau baris-baris penungguan.
Antrian adalah suatu kejadian yang biasa dalam kehidupan sehari–hari. Menunggu
di depan loket untuk mendapatkan tiket kereta api atau tiket bioskop, dllnya.
Menurut Siagian
(1987) antrian ialah suatu garis tunggu dari nasabah (satuan) yang memerlukan
layanan dari satu atau lebih pelayanan (fasilitas layanan). Pada umumnya,
sistem antrian dapat diklasifikasikan menjadi sistem yang berbeda-beda di mana
teori antrian dan simulasi sering diterapkan secara luas.
Kompenen Sistem Antrian
Ada tiga komponen
dalam sistem antrian, yaitu:
1. Kedatangan
Komponen ini sering
disebut juga dengan proses input. Proses input meliputi calling population atau
sumber kedatangan, dan terjadinya merupakan suatu variabel yang bersifat acak.
2. Pelayanan
Mekanisme pelayanan
atau pelayan dapat terdiri dari satu atau lebih pelayan maupun fasilitas
pelayanan yang diberikan. Biasanya, fasilitas pelayanan tersebut disebut juga
dengan saluran atau channel.
3. Antri
Faktor penting dari
timbulnya antrian adalah sifat kedatangan dan proses layanan. Jika tidak ada
antrian yang timbul, maka dapat dipastikan bahwa terdapat pelayanan yang
menganggur atau fasilitas pelayanan yang berlebih.
Disiplin Antri
Faktor penentu lain
timbulnya antrian selain sifat kedatangan dan proses layanan adalah disiplin
antri. Disiplin antri berarti suatu keputusan yang menjelaskan cara melayani
pengantri. Menurut Siagian, ada 4 jenis disiplin pelayanan yang paling sering
digunakan, yaitu:
1.
First
in First Out (FIFO) atau First Come Fisrt Served (FCFS), yang artinya pelanggan
yang lebih dulu datang akan lebih dulu mendapatkan pelayanan.
2.
Last
In First Out (LIFO) atau Last Come First Served (LCFS), artinya pelanggan yang
datang terakhir bisa mendapatkan pelayanan terlebih dahulu, atau yang lebih
dahulu keluar adalah yang terakhir datang.
3.
Service
In Random Order (SIRO), artinya pelayanan diberikan tidak berdasarkan urutan
kedatangan, melainkan dilakukan secara random.
4.
Priority
Service (PS), artinya mereka yang mempunyai prioritas lebih tinggi yang akan
terlebih dahulu diberikan pelayanan, dan mereka yang memiliki prioritas rendah
akan mendapatkan pelayanan berikutnya, meskipun datang lebih awal
Antrian dengan
Prioritas
Sejauh ini dalam
banyak penelitian, sering dianggap bahwa antrian unit pelayanan dilayani
berdasarkan aturan yang datang pertama dilayani pertama (First Come First
Serve). Jelas, bukan hanya FCFS saja jenis disiplin antrian yang digunakan.
Terdapat jenis disiplin antrian lain, misalnya, pelanggan dipilih berdasarkan
random/acak (Service In Random Order /SIRO) dan juga pelanggan dengan
kedatangan terakhir akan dilayani pertama (Last Come First Serve/LCFS). Pada
kenyataanya, selain ketiga jenis disiplin antrian diatas, unit juga dapat
dilayani secara prioritas. Pada banyak organisasi, urutan di mana pelanggan
akan dilayani tergantung pada tipe pelanggan. Jadi, jika terdapat prioritas
tertinggi di dalam suatu sistem antrian, maka pelanggan dengan prioritas
tertinggi itu akan lebih dahulu masuk ke dalam layanan sebelum prioritas yang
lebih rendah.
Antrian prioritas
(priority queue) adalah prioritas pelayanan yang diberikan kepada pelanggan
yang mempunyai prioritas lebih tinggi dibandingkan dengan pelanggan yang
mempunyai prioritas lebih rendah, selagi peraturan pelayanan menentukan
pemilihan pelanggan dari satu jalur antrian, para pelanggan yang tiba di sebuah
sarana pelayanan dapat juga di tempatkan dalam antrian prioritas sehingga
prioritas yang lebih tinggi akan menerima preferensi untuk mulai dilayani
terlebih dahulu. Kejadian seperti ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal,
misalnya seseorang yang dalam keadaan penyakit lebih berat dibanding dengan
orang lain dalam suatu tempat praktek dokter.
Pada tingkat
kedatangan dapat ditentukan bahwa setiap pelanggan yang berada dalam antrian harus
dilayani berdasarkan ”yang pertama datang, juga pertama dilayani” (FCFS). Dalam
prioritas pelayanan terdapat dua aturan yang dapat diikuti, yaitu:
1. Aturan Preemptive
Menunjukkan dimana pelayanan pelanggan dengan prioritas lebih rendah dapat
diinterupsi demi seorang pelanggan yang baru tiba dan memiliki prioritas yang
lebih tinggi.
2. Aturan
Non-Preemptive (NP) Menunjukkan pelayanan dimana seorang pelanggan, begitu
dilayani, hanya akan meninggalkan sarana pelayanan tersebut setelah pelayanan
diselesaikan dan tanpa bergantung pada prioritas para pelanggan yang baru tiba.
Aturan preemptive
umumnya tidak menguraikan sistem antriannya secara mendalam, sedangkan pada
sistem antrian non-preemptive diuraikan melalui pelayanan tunggal dan pelayanan
majemuk. Pada model pelayanan tunggal dapat ditentukan untuk menggunakan
distribusi Poisson sebagai tingkat kedatangan pada sistem antrian, sementara
pelayanan menggunakan distribusi bebas(arbitrary distribution). Pada kasus
pelayanan majemuk sudah ditentukan bahwa kedatangan dan pelayanan mengikuti
distribusi Poisson.
Rumus:


Contoh Soal:
Bank CIMB Jogjakarta melakukan aktivitas pelayanan kepada nasabah yang akan menyimpan dan mengambil uangnya di bank tersebut. Rata-rata kedatangan pelanggan di bank tersebut mengikuti distribusi poisson yaitu 20 pelanggan perjam. Bank CIMB Jogjakarta dapat melayani rata-rata 25 pelanggan perjam, dengan waktu pelayanan setiap pelanggan mengikuti distribusi probabilitas eksponensial. Jika diasumsikan model sistem antrian yang digunakan Bank adalah (M/M/1), hitunglah soal-soal berikut:
1. Tingkat intensitas fasiitas pelayanan (p)
2. Jumlah rata-rata pelanggan yang diharapkan dalam sistem
3. Jumlah pelanggan yang diharapkan menunggu dalam antrian
4. Waktu yang diharapkan oleh setiap pelanggan selama dalam sistem (menunggu dalam pelayanan)
5. Waktu yang diharapkan oleh setiap pelanggan untuk menunggu dalam antrian
pembahasan:
1. tingkat intensitas
2. jumlah rata-rata pelanggan yang di harapkan dalam sistem

Keterangan:
1. Tingkat
intensitas/rata-rata kegunaan pelayanan atau p (Average server utilization) =
0,8. Angka tersebut menunjukkan bahwa pelayan (kasir) akan sibuk melayani
nasabah selama 80% dari waktunya. Sedangkan 20% dari waktunya atau (1-p) atau
(1-0,80) yang sering disebut idle time akan digunakan pelayan (kasir) untuk
istirahat, membereskan berkas dan lain-lain.
2. Jumlah
rata-rata pelanggan yang diharapkan dalam sistem atau L (Average number in the
system) = 4. Angka tersebut menunjukkan bahwa pelayan dapat mengharapkan 4
nasabah yang berada dalam sistem.
3. Jumlah
pelanggan yang diharapkan menunggu dalam antrian atau Lq (Average number in the
Queu) = 3,2. Angka tersebut menunjukkan bahwa nasabah yang menunggu untuk
dilayani dalam antrian sebanyak 3, 20 nasabah.
4. Waktu
yang diharapkan pelanggan selama dalam sistem atau W (Average time in the
system) = 0,2 jam atau 12 menit. Angka tersebut menunjukkan bahwa, waktu
rata-rata nasabah menunggu dalam sistem selama 12 menit.
5. Waktu
yang diharapkan oleh pelanggan selama menunggu dalam antrian atau Wq (Average
time in the Queu) = 0,16 jam atau 9,6 menit. Angka tersebut menunjukkan bahwa
rata-rata nasabah menunggu dalam antrian selama 9,6 menit.
Daftar Pustaka:
https://sites.google.com/site/operasiproduksi/aplikasi-teori-antrian




Komentar
Posting Komentar